Cerita Seks

Cerita Seks, Cerita Bokep, Cerita Porno, Cerita Ngentot

Live Casino Bandarq Dominoqq Domino99 Bandarkiu

Cerita Seks Ngewe Dokter Ganteng Tapi Cabul

Cerita Seks Ngewe Dokter Ganteng Tapi Cabul

Cerita Seks Ngewe Dokter Ganteng Tapi Cabul

Cerita Seks Ngewe Dokter Ganteng Tapi Cabul

Cerita Seks Ngewe Dokter Ganteng Tapi Cabul ,Perkenalkan namaku Ronald”, sapa seorang pria muda ganteng dengan senyum manis. Pakaiannya putih seperti seragam seorang dokter. Dalam ruangan itu ada beberapa wanita di hadapannya, mereka pun membalas perkenalan diri dokter itu.

“Ayu”, seorang gadis muda dan cantik mengawali perkenalan, dilanjutkan teman-temannya yang seusia dengannya, “Lisa..”, “Widya…”, lalu disambung gadis manis sebelahnya lagi yang berperawakan lebih manis, kulit putih dan mata sipit nya menandakan dia adalah gadis oriental, “Fenny…”, gadis itu memperkenalkan diri. Sisa satu wanita, usianya lebih tua di antara mereka, wajahnya mirip dengan Fenny, “Yully”, wanita itu memperkenalkan diri.

“Baiklah, langsung kita mulai saja”, kata dokter yang bernama Ronald itu, ia mengambil perlengkapan yang terletak di mejanya. Ruangan sedikit kecil namun rapi ini merupakan ruangan kerja dokter Ronald, bukan tempat prakter, namun lebih seperti ruang pribadinya. Biasanya dia praktek di rumah sakit, namun karena permintaan temannya, ia terpaksa menerima pasien di rumahnya sendiri. “Kemarin teman-teman yang lain sudah check up, hasilnya sudah ada, nanti saya titip kalian saja ya”, kata Dr. Ronald.

“Saya butuh air kencing kalian”, kata Dr. Ronald sambil memberikan tabung kecil transparan kepada masing-masing wanita yang berada di ruangan. “Loh, ada yang belum datang ya?”, tanya Dr. Ronald. “Soalnya saya sudah siapkan wadah sesuai list yang Herman berikan”, sambungnya. “Iya dok, Mega berhalangan hari ini, mungkin malam atau besok baru bisa”, jawab Ayu.

“Baiklah, nanti pesankan ke dia kalau malam saya baru ada jam sepuluh, kalau besok jam sembilan pagi sudah harus balik dinas”, kata Dr. Ronald. Kelima gadis itu pun mengangguk mengiyakan. “Toilet ada di belakang, gantian saja ya”, kata Dr. Ronald. Lalu ke lima wanita itu pun meninggalkan ruangan dan menuju ke ujung rumah di mana letak toilet yang telah dijelasin Dr. Ronald.Dr. Ronald segera menuju ke meja kerjanya, ia segera melihat monitor komputernya, ternyata ia memasang kamera di setiap sudut rumahnya. Dr. Ronald memperhatikan jelas gerak-gerik kelima wanita itu, mengamati mereka yang menuju ke toilet, bahkan Dr. Ronald pun memasang kamera di dalam toilet, di sudut-sudut yang tidak terlihat, bahkan di balik cermin palsu yang berada dalam toilet. “Wah, gadis yang ini cantik sekali, kulitnya putih..”, gumam Dr. Ronald mengamati gadis pertama yang masuk ke toilet. Gadis itu tak lain adalah Fenny, ia melorotkan celananya lalu melepaskan celana dalamnya, sorotan kamera jelas memperlihatkan area bawah gadis itu yang sedikit dihiasi jembut. Terlihat wajah Dr. Ronald yang sangat serius memperhatikannya, sambil menelan ludah ia tak berkedip mendekatkan wajahnya di depan monitor.

Cerita Dewasa Fenny pun mengencingi tabung yang disediakan, setelah itu ia tutup dan memakai kembali celananya. Giliran Ayu selanjutnya yang masuk ke toilet, sedangkan Fenny bergabung dengan antrian, ia memilih bersama-sama kembali ke ruangan Dr. Ronald. Sama dengan tadi, Dr. Ronald juga memperhatikan monitor yang menampirkan sorotan kamera tersembunyi di toilet. “Dasar si Herman, perek-perek miliknya bagus-bagus”, pujinya dalam hati. Para gadia itu bergiliran masuk hingga semua berhasil mengumpulkan air seni mereka dan kembali keruangan. Dr. Ronald juga sudah sedikit puas, selain sudah melihat adegan di toilet, dia juga sudah menyimpan hasil rekaman itu.

“Mari gantian berbaring di sini”, perintah Dr. Ronald menunjuk sebuah ranjang single bed sambil menyiapkan jarum suntik. Tante Yully duluan naik ke ranjang karena gadis yang lain sedikit takut dengan jarum suntik. “Tenang, saya cuma ambil sampel darah sedikit saja”, kata Dr. Ronald walau dalam hatinya ia mengeluh, “Sama jarum suntik yang kecil malah takut, tapi suka kalau penis besar yang menusuk, dasar”.

“Arg”, para wanita itu sedikit tersentak karena takut akan jarum suntik, namun bujukan Dr. Ronald pun memberanikan mereka. Sampel darah akhirnya terkumpul semua. “Hasilnya nanti saya kabari ya”, pesan Dr. Ronald dan para wanita pun berterima kasih kemudian meninggalkan kediaman Dr. Ronald.

Dr. Ronald kembalk ke rumah sakit, tempat di mana ia berdinas, di sana pula peralatan lebih lengkap, Dr. Ronald pun sambil mengecek hasil sampelnya.

Seharian Dr. Ronald bekerja di rumah sakit, akhirnya selesai mengambil hasil test, “Sepertinya semua aman”, kata dokter dalam hati. Capek terasa, Dr. Ronald pun meninggalkan tempat kerjanya. Dengan mobil mewah Toyota Camry, ia segera menuju rumahnya untuk beristirahat karena sudah cukup malam ia bekerja tanpa mengenal waktu.

Dr. Ronald sedikit kaget ketika sampai di depan pagar rumahnya ada seorang gadis berdiri di sana. “Cari siapa ya?”, tanya dokter membuka kaca pintu mobilnya. “Saya cari Dokter Ronald”, kata gadis itu. Tampangnya lumayan ayu, tubuhnya langsing, dengan senyum yang manis ia kembali berkata, “Nama saya Mega, saya disuruh Herman check up di sini”. “Oh, ayo masuk”, kata Dr. Ronald lalu menekan remote agar pagar rumah terbuka. Mereka pun masuk ke dalam, rumah gelap dan sepi.

“Ini botol untuk kumpulkan air seni”, kata Dr. Ronald memberikan wadah ketika mereka sudah memasuki ruangan. Dokter masih terlihat capek, baju nya belum sempat ganti, pikirnya kasihan gadis ini mungkin sudah menunggu lama, lagian kalau selesai maka dokter bisa lega beristirahat. “Toilet ada di belakang”, kata Dr. Ronald. “Tapi…”, sanggah Mega, “Mega takut sendirian”. “Ya sudah saya antar sampai sana”, jawab dokter sedikit risih, selain capek, ia juga tak bisa memonitor kamera yang dia sembunyikan di toilet.

Bius sudah disuntikkan dan Mega sudah tidak sadarkan diri, “Perek gratis”, kata Dr. Ronald. Ia pun mulai menelanjangi pakaian Mega. “Wuih, gadis ini masih segar kelihatannya”, kata Dokter Ronald lalu bergegas mencari handycam di lemari kerjanya. “Sayang banget gadis lainnya tak sempat saya bius”, gumam Dr. Ronald.

Ia pun mulai menyoroti tubuh Mega yang sudah dibugilinya, Mega tertidur terlentang tanpa sehelai benang pun menutupi badannya. Mega tidak sadarkan diri, payudaranya terpampang jelas dengan puting yang sudah sedikit menghitam, maklum puting ini sudah dikenyot beberapa lelaki hidung belang.

Jembutnya sudah sedikit lebat, menandakan ia mulai meninggalkan masa remajanya, vaginanya tertutup oleh bulu-bulu jembutnya. Dr. Ronald mulai menyoroti tubuh Mega mulai dari wajah, turun hingga ke leher, dada, pusar, selangkangan, paha, hingga ujung jari kakinya, kemudian sorotan naik lagi perlahan hingga ke payudara.

Sorotan cukup lama di payudara Mega, di jauh dekat kannya kamera secara berulang-ulang, kemudian dizoom agar puting Mega terlihat jelas. Adegan selanjutnya Dr. Ronald pun meremas buah dada Mega sambil merekamnya, beberapa menit hingga Dr. Ronald menjilati puting susu dengan ditemani kamera yang menyorotinya. “Mantap”, kata Dr. Ronald.

Beberapa menit kemudian, Dr. Ronald mulai menyoroti daerah lain, kini ke arah kelamin Mega. “Jembutnya rimba”, kata Dr. Ronald. Seperti tadi, Dr. Ronald menyoroti dengan maju mundur, kemudian dizoom juga. Lalu dengan jari-jarinya, Dr. Ronald mulai menyusuri bulu-bulu jembut itu, disisirnya hingga vagina Mega terlihat, namun kamera masih sedikit susah menyorotinya.

Dr. Ronald kemudian pun membuka selangkangan Mega lebih lebar lagi hingga vagina Mega lebih jelas terlihat, sorotan kamera pun maju mundur menangkap gambar tersebut. “Sudah tidak perawan”, kata Dr. Ronald yang menyoroti semakin dekat vagina Mega. Dibantunya dengan jarinya untuk membuka dinding luar vagina Mega, nampak warna merah kehitaman yang tersorot kamera.

***
Cerita bokep Mulai bosan menyoroti seluruh tubuh Mega, Dr. Ronald pun menaruh kameranya di dekat mejanya, namun tetap mengarahkan ke arah Mega yang sedang terbius. Dr. Ronald mau merekam adegannya mengagahi Mega. Dr. Ronald tidak mau mengambil resiko, ia mengambil kondom dari laci mejanya. Ia mulai membuka seluruh pakaiannya dan mengenakan kondom yang tadi dia ambil. Dokter ganteng yang mesum ini sudah siap untuk menyalurkan nafsu nya ke Mega.

Dokter mulai naik ke atas ranjang, tidak mau kelamaan, ia segera menancapkan penisnya yang berbalut kondom ke vagina Mega, walaupun masih kering, namun tetap dipaksakannya. Cukup mudah memasukkan penisnya ke lubang vagina Mega, karena sudah cukup lebar lubang milik Mega yang setiap harinya berprofesi sebagai pemijat plus plus di tempat usaha Herman, teman Dr. Ronald.

“Oh nikmatnya”, desah Dr. Ronald merasakan hangat penisnya berada di dalam vagina Mega. Lalu ia pun menciumi bibir Mega, dijilatinya wajah dan leher Mega. Sambil menggenjoti tubuh Mega, Dr. Ronald terus menerus menciumi wajah Mega. Sesekali Dr. Ronald memandang ke arah kamera lalu tersenyum lebar kegirangan. Naik turun bokongnya terus menggenjot Mega yang masih tidak sadarkan diri.

Puas menciumi wajah Mega yang ayu itu, Dr. Ronald pun mulai turunkan ciumannya hingga ke buah dada Mega. Diremasnya susu Mega dan dikenyotnya kiri dan kanan. Susu yang tidak begitu besarpun menjadi mainan Dr. Ronald. “Setan, harum banget nih perek”, ketus Dr. Ronald dengan kasar yang tidak menampakkan kepribadannya yang pintar menjadi seorang dokter. Puting susu Mega disedoti Herman kiri kanan, secara kuat, remasannya pun cukup kuat.

Takut obat biusnya tidak bertahan lama, Dr. Ronald pun mempercepat irama genjotannya, berusaha mempercepat supaya spermanya keluar dan dia bisa bernafas lega. “Oh damn!”, desah Dr. Ronald merasakan nikmat menggenjoti tubuh Mega. Remasan di buah dada Mega pun semakin kencang, hingga Dr. Ronald menekan lebih kuat penisnya ke dalam-dalam, “Ah…….”, ia pun berejakulasi di dalam vagina Mega. “Nikmat…..”, Dr. Ronald puas mendapatkan perek gratis.

Dr. Ronald mulai menarik keluar penisnya, spermanya tertampung di kondom yang ia pakai, Doketr mulai membersihkannya, wajahnya terlihat gembira sekali setelah berhasil menyalurkan hasratnya. Padahal kalau ia jujur pada Herman, pastilah Herman memberikan gadis-gadis yang bekerja di usahanya secara gratis kepada kawannya ini. Hanya saja Dr. Ronald sedikit tertutup, ia mengenal Herman pun di waktu sekolah dasar saja. Pendidikan Dr. Ronald di jenjang berikutnya sudah ia dapat di Australia hingga gelar kedokterannya.

Dr. Ronald mulai berpakaian kembali, setelah itu ia mematikan kameranya dan langsung menyimpannya. Takut Mega terbangun, ia pun bergegas mengambil obat-obatan, entah obat apa yang seperti cairan ia tuangkan ke serbet lalu diusapkannya ke dada Mega dan vagina Mega. Lalu dipakaikannya kembali pakaian Mega seperti semula.

“Wah, sudah bangun ya?”, tanya Dr. Ronald pura-pura tidak terjadi apa-apa, ia menunggu Mega terbangun selama beberapa saat. “Lama dok nunggu nya?”, tanya Mega terbangun dan bangkit dari ranjang yang tadi ia terbius. Nampak tidak curiga sama sekali, Mega benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa.

“Sudah ya dok? Mega ijin pamit ya…”, kata Mega. “Biar saya antar saja, takut Mega masih mengantuk…”, Dr. Ronald menawarkan bantuan. Mega pun menyetujuinya dan ikut Dr. Ronald pulang, bukan ke rumah, namun ke tempat usaha milik Herman. Mega sudah sering nginap di sana, bersama Satorman dan teman-teman lainnya. Dokter meninggalkannya di depan pintu dan segera kembali ke rumah karena tidak sabar melihat hasil rekamannya.

Agen Bola

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerita Seks © 2019 Frontier Theme
%d bloggers like this: